Tantangan: The New You dan Arti Penting Tindakan

Ketika kegetiran dan kegelisahan dihadapi seseorang dengan dada yang tegak, maka pada tahapan selanjutnya, lahirlah tantangan. Perasaan-perasaan tidak nyaman adalah api, yang ketika seseorang dengan gagah menghadapinya, ia terbakar untuk merumuskan hal-hal apa yang perlu dilakukannya dalam hidupnya; gunung-gunung apakah yang perlu didakinya agar ia menjadi diri yang sejati.

Saur Marlina Manurung, yang dikenal sebagai Butet Manurung, merupakan figur yang menggambarkan seorang pendaki tantangan yang tangguh. Butet adalah sosok wanita hebat yang bersedia masuk ke jantung hutan untuk menjadi guru bagi anak-anak pedalaman yang belum pernah mengecap bangku pendidikan. Ia tinggal bersama dan tidur di tempat yang sama dengan anak-anak itu. Makan apa yang mereka makan, serta turut bertelanjang kaki seperti mereka. Bahkan, ia pun tak segan mengenakan kemben sederhana yang mungkin takkan cukup untuk membantunya melawan hawa dingin.

Kerja Butet Manurung yang menakjubkan ini pernah diliput oleh majalah Time Asia. Sejumlah penghargaan pun telah dianugerahkan kepadanya, antara lain Man and Biosfer Award 2001, Woman of the Year bidang pendidikan ANTV 2004, Hero of Asia Award by Time Magazine 2004, Kartini Indonesia Award 2005, Ashoka Award 2005, Ashoka Fellow 2006, dan Young Global Leader Honorees 2009.

Karena lahir di lingkungan berada, jika Butet mau sebenarnya dia bisa saja memilih hidup yang berkecukupan dan berpuas diri dengan kenyaman yang ada. Namun pada kenyataannya, Butet justru memperhadapkan dirinya dengan tantangan untuk berbuat lebih. Sebagai seseorang yang menepikan kemewahan hidup kota dan menjauhi zona amannya demi hidup untuk memberi bagi sesama, Butet adalah sang Petarung yang pantas menjadi model The New You dalam menghadapi tantangan.

Sebuah perjalanan, sejauh apa pun, selalu dimulai dari satu langkah pertama. Kita akan tetap menjadi diri kita yang sekarang, mandek, dan tak mampu melampauinya jika hanya membangun pemahaman mengenai siapa diri kita yang baru, tapi di saat yang bersamaan tidak melakukan apa-apa.

Tanpa keberanian memulai langkah pertama, kita akan tetap menjadi seseorang yang selalu terperangah di hadapan televisi, sekadar menyaksikan kemunculan tokoh-tokoh yang turut serta mengatur arah gerak sejarah. Seseorang yang sehabis mengagumi tokoh-tokoh itu lantas tidur dan terbangun esok harinya untuk kembali mengulang-ulang rutinitas sehari-hari.

Banyak orang yang punya pikiran besar dan membicarakan hal-hal luar biasa. Banyak orang menggagas inovasi-inovasi yang akan memberikan faedah bagi kehidupan. Namun, tak banyak dari mereka yang beranjak lebih jauh dengan tindakan. Dibandingkan sekadar menggagas atau mempercakapkan pikiran-pikiran besar, bertindak adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.

Tindakan tidak seenteng isi pikiran atau kata-kata. Tindakan tidak pula seringan kicauan di Twitter atau status di Facebook. Bertindak berarti memberi bentuk pada apa yang kita pikirkan, pada apa yang kita katakan. Tanpa tindakan, baik pikiran maupun kata-kata takkan mewujud dan menguap begitu saja.

Meskipun demikian, ada satu hal yang perlu untuk tetap kita cermati. Bahwa orang-orang dengan gagasan besar, tak semuanya tak bertindak lantaran mereka tak punya kemauan atau tak cukup punya tekad. Sebagian dari mereka tak mengambil tindakan karena memang belum punya sumber daya untuk memulainya. Oleh karena itu, diperlukan pula adanya orang lain, lembaga, atau organisasi yang memberi mereka bantuan untuk memulai. Karena untuk mengambil suatu tindakan, tiap-tiap orang terlebih dahulu membutuhkan akses untuk bisa merealisasikan apa yang ingin ia wujudkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.