Creating the Future: Mencipta Masa Depan

Hidup kita adalah perjalanan, dan tidak berakhir di masa kini. Masa depanlah yang menjadi tujuan kita, dan insan yang sejati bergerak dengan visi masa depan yang jelas, terang, dan tegas.

Bukan hanya masa lalu, bagi sebagian orang masa depan pun menakutkan. Masa depan adalah sesuatu yang belum terjadi. Ia selalu ada di hadapan kita, dan tampil sebagai kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas. Barangkali saat ini kita bisa membayangkan hidup kita lima tahun ke depan. Mungkin kita
membayangkan saat itu kita sudah menikahi pasangan kita, punya pekerjaan dan tempat tinggal yang nyaman, serta tengah berbahagia karena sedang menunggu kelahiran putra kedua.

Barangkali, kita saat ini pun tengah melakukan banyak hal untuk bisa sampai ke sana. Untuk bisa mewujudkan hidup yang kita impikan itu. Misalnya, dengan masuk perguruan tinggi ternama dan magang di sebuah perusahaan besar, setidaknya untuk menambah pengalaman kerja. Kita yakin kita sudah berada di jalan yang benar. Namun, adakah jaminan bahwa masa depan kita nantinya memang sesuai dengan apa yang tersebut kita bayangkan? Adakah jaminan bahwa hal-hal yang tak terduga tidak terjadi dan membelokkan jalan kita?

Begitulah masa depan. Kita tak pernah benar-benar tahu ia akan seperti apa. Kita pun tak bisa benar-benar mengendalikannya. Memang, apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan masa depan kita. Tapi itu hanya salah satu faktor saja. Banyak hal lain yang akan ikut membentuk masa depan. Itulah sebabnya, bagi banyak orang masa depan menakutkan dan membikin cemas.

Akan tetapi, bagi orang-orang tertentu, masa depan yang serba mungkin itu tidaklah menakutkan. Justru, ia menyediakan lahan untuk aktualisasi diri dan menaruh impian. Lahan untuk mewujudkan hal-hal besar yang tak terpikirkan sebelumnya
oleh orang-orang kebanyakan.

Ambillah ilustrasi dari periode sejarah bangsa Indonesia. Dari buku-buku sejarah dan cerita-cerita orang tua, kita tahu betapa kuat semangat para pendiri negara ini dalam menyuarakan kemerdekaan. Mereka tak pernah bungkam meski terus-terusan dipantau, dikekang, dan ditekan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Mengapa pemerintah kolonial gagal memadamkan api semangat itu meski seribu macam cara untuk mengguyurnya telah dicoba? Mengapa spirit itu tak pernah surut meski mereka dibuang, dipenjarakan, organisasi mereka pun dibubarkan? Apakah yang menjadi sumber bagi keteguhan hati mereka? Yang memberi arah pada perjuangan mereka sehingga kepastiannya untuk menang nampak mustahil untuk dibendung?

Mimpi. Jawabannya adalah mimpi. Sebuah konsepsi tentang masa depan yang bukan cuma dipenuhi harapan-harapan cemerlang, tetapi juga didasarkan pada perenungan yang kokoh dan mendalam. Mimpi adalah kehendak untuk mewariskan kebaikan bagi masa depan, yang diberangkatkan dari strategi dan pemikiran yang tajam. Dengan kata lain, memiliki mimpi berarti mengarahkan segenap daya dan pikiran kita pada sebentuk pencapaian.

Mimpi masa depan, oleh karenanya, jadi bahan renungan yang wajib dijalani oleh tiap-tiap orang yang menginginkan kebaruan. Yakni, menginginkan hal yang berbeda dan lebih baik daripada yang telah ada. Orang-orang yang kepadanya kita bisa bilang: “Andalah The New You.” Tanpa mimpi, kita tak akan pernah mencapai kesejatian sebagai manusia.

Tanpa mimpi, kita akan mudah menyerah hanya karena rintangan-rintangan kecil yang sudah pasti menjadi bagian dari perjalanan kita. Tanpa mimpi, kita hanya akan membuang-buang energi untuk mengejar hal-hal remeh yang sebenarnya tak cukup penting buat hidup kita. Tanpa mimpi, langkah kita akan berbelok ke sana kemari karena menuruti obsesi-obsesi sesaat. Dan kita tahu, bangsa Indonesia akan tetap jadi cerita kalau para pendirinya hanya mengindahkan obsesi sesaat mereka—obsesi sesaat yang membujuk mereka untuk meraup keamanan dan keuntungan pribadi, cukup dengan mengabdi pada pemerintah kolonial.

Kita bisa juga memahami The New You dengan meng-ibaratkannya sebagai seorang pelukis, yaitu pelukis yang rela menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menjalin persahabatan dengan warna demi menghasilkan sebuah karya hebat. Ia tak ragu untuk memanfaatkan waktu yang dimilikinya guna mengeksplorasi berbagai kemungkinan, baik dalam memainkan warna maupun teknik melukis.

Mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan tidak berarti hilang fokus lantaran terdorong untuk mencoba hal-hal baru di luar fokus utamanya. Justru, hal ini bermanfaat untuk memperkaya bekal kita dalam usaha mencapai tujuan. Kita tak pernah tahu kendala-kendala apa saja yang bakal kita hadapi nantinya. Sangat mungkin, besok atau lusa ada persoalan tak terduga yang tiba-tiba saja mengganjal langkah kita. Dengan kekayaan bekal yang kita punyai, kita akan lebih siap ketika ganjalan-ganjalan itu benar-benar terjadi.

Mengumpamakan The New You sebagai seorang pelukis mengingatkan saya pada tokoh Victoria, seorang pelukis dalam novel Gadis Jeruk yang pernah ditulis oleh Jostein Gaarder.
Dengan penuh ketelatenan ia memilih butir demi butir buah jeruk yang hendak ia beli untuk dijadikan model lukisan. Dan tak kurang dari enam bulan ia habiskan di Sevilla untuk mempelajari teknik-teknik melukis. Hingga kemudian ia pun menyelesaikan lukisan buah jeruk yang menjadi lukisan terbaiknya, satu-satunya lukisan yang tak ia jual meski banyak kolektor menawarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.